Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Banten Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Siswa SDN Banjarwangi Pandeglang Belajar di Musala

Bagikan: Facebook X WhatsApp

PANDEGLANG | bantenrayaco.id

Siswa SDN Banjarwangi di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten, terpaksa belajar di musala dan perpustakaan akibat kekurangan ruang kelas. Kondisi tersebut diperkirakan telah berlangsung hampir 10 tahun.

Kepala SDN Banjarwangi, Alis Syarah, mengatakan kondisi itu sudah terjadi sebelum dirinya menjabat sebagai kepala sekolah empat tahun lalu.

“Saya menjabat Kepala SDN Banjarwangi sudah empat tahun, siswa belajar di musala dan perpustakaan ketika kepala sekolah sebelumnya sudah ada. Diperkirakan sudah berjalan 10 tahun,” kata Alis, Kamis (15/10/2026).

Ia menjelaskan, siswa kelas I dan kelas II yang masuk pada siang hari terpaksa menggunakan musala sebagai tempat belajar. Sementara itu, siswa kelas IV menggunakan perpustakaan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Keterbatasan fasilitas juga membuat sebagian siswa harus belajar di teras tanpa meja dan kursi karena perlengkapan tersebut mengalami kerusakan.

“Di teras belajarnya juga, tidak menggunakan meja dan kursi karena rusak,” ujarnya.

Alis menyebutkan, SDN Banjarwangi memiliki sekitar 400 siswa, sedangkan ruang kelas yang tersedia hanya 12. Jumlah tersebut belum mampu menampung seluruh kebutuhan kegiatan belajar mengajar.

“Masih kekurangan kelas karena siswanya di Banjarwangi paling banyak,” kata Alis.

Selain kekurangan ruang kelas, sejumlah bangunan sekolah juga mengalami kerusakan pada bagian dinding dan plafon. Menurut Alis, bangunan yang digunakan saat ini sudah hampir 25 tahun belum mendapatkan bantuan perbaikan.

“Ruang kelas yang lain juga sudah mengalami kerusakan, dan kalau dihitung sudah hampir 25 tahun belum ada perbaikan,” ungkapnya.

Pihak sekolah sebelumnya telah mendapatkan bantuan program revitalisasi untuk enam ruang kelas. Namun, jumlah tersebut belum memenuhi kebutuhan sekolah yang telah mengajukan perbaikan terhadap 12 ruang kelas.

“Revitalisasi dapat enam kelas, pengajuan 12 kelas, yang di-acc enam. Bangunan yang ada sekarang juga sudah mulai rusak, ruang untuk guru juga terbatas. Rencana revitalisasi tahap II kami bakal mengajukan kembali,” imbuhnya.

Sekolah berencana mengajukan kembali bantuan revitalisasi tahap II untuk memenuhi kebutuhan ruang belajar sekaligus memperbaiki bangunan yang rusak. Penambahan ruang kelas diharapkan dapat menunjang kegiatan belajar mengajar agar berlangsung lebih aman dan nyaman bagi siswa. (Hab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *