Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Banten Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Kasus DBD di Lebak Tembus 793 Kasus, 3 Pasien Meninggal Dunia

Bagikan: Facebook X WhatsApp

LEBAK | bantenrayaco.id

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Lebak, Banten, mencapai 793 kasus sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Nining Tilawah, mengatakan kasus DBD pada periode tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada Januari hingga Agustus 2025, tercatat 602 kasus DBD. Dengan demikian, terjadi peningkatan sebanyak 191 kasus pada periode yang sama tahun 2026.

“Januari sampai Agustus 2025 ada 602 kasus, sehingga jika dibandingkan dengan tahun 2026 ada peningkatan sebanyak 191 kasus,” kata Nining, Minggu (27/9/2026).

Kasus DBD di Kabupaten Lebak paling banyak ditemukan di wilayah perkotaan. Puskesmas Rangkasbitung mencatat jumlah penanganan tertinggi dengan 121 kasus.

Selanjutnya, Puskesmas Kalanganyar menangani 62 kasus dan salah satu puskesmas lainnya tercatat menangani sekitar 50 kasus.

Ia juga mengatakan wilayah perkotaan seperti Rangkasbitung, Kalanganyar, dan Cibadak menjadi daerah dengan temuan kasus DBD yang cukup tinggi.

“Ya, DBD paling banyak ditemukan di daerah perkotaan seperti Rangkasbitung, Kalanganyar dan Cibadak,” katanya.

Menurutnya, Dinkes Lebak telah mengeluarkan edaran kepada seluruh puskesmas untuk meningkatkan promosi kesehatan, khususnya di wilayah dengan kasus DBD yang relatif tinggi.

Upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan kasus DBD, termasuk pada kondisi cuaca dan lingkungan yang memungkinkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Dia mengimbau masyarakat meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin melalui gerakan 3M Plus.

Langkah tersebut meliputi menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Sementara itu, unsur “Plus” dapat dilakukan dengan menggunakan losion antinyamuk, memakai larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dikuras, memasang kasa nyamuk, dan langkah pencegahan lainnya.

Masyarakat juga didorong menjalankan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) untuk memantau dan memberantas tempat perkembangbiakan nyamuk di lingkungan rumah.

“ Masyarakat optimalkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M Plus secara rutin satu minggu sekali. Seperti menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup dan mendaur ulang barang bekas serta plus yaitu menggunakan lotion antinyamuk, larvasida di tempat penampungan air yang sulit untuk dikuras, memasang kasa nyamuk dan lainnya, serta melakukan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J),” jelasny.  (Hab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *