Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Banten Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

5.000 Dus Masker Disiapkan, Puskesmas di Banten Siaga 24 Jam Hadapi Abu Vulkanik

Bagikan: Facebook X WhatsApp

SERANG | Bantenraya.co.id

Pemerintah Provinsi Banten meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak kesehatan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sebanyak 5.000 dus masker disiapkan untuk masyarakat, sementara seluruh puskesmas di delapan kabupaten/kota diminta bersiaga selama 24 jam.

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, masker tersebut akan didistribusikan melalui pemerintah kabupaten/kota sebagai langkah perlindungan bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik.

“Saya memerintahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk mendistribusikan 5.000 dus masker kepada pemerintah kabupaten/kota,” kata Andra saat berada di Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, Kabupaten Serang, Minggu (6/9/2026).

Setiap dus berisi 50 masker. Dengan jumlah tersebut, Pemprov Banten menilai stok masker yang disiapkan cukup untuk mendukung kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti memastikan persediaan masker telah tersedia dan siap disalurkan.

“Stok masker 5.000 dus, satu dus isinya 50 dan cukup,” ujar Ati.

Menurut Ati, penggunaan masker menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik. Material yang terkandung dalam abu vulkanik dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan.

“Dalam abu vulkanik terdapat zat kimiawi yang membahayakan dan akan mempengaruhi metabolisme tubuh seperti paru-paru dan organ pernapasan sehingga wajib memakai masker,” jelasnya.

Selain distribusi masker, Pemprov Banten juga memperkuat layanan kesehatan di tingkat masyarakat. Seluruh puskesmas yang tersebar di delapan kabupaten/kota disiagakan selama 24 jam untuk menangani warga yang mengalami keluhan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Kesiapsiagaan tersebut dilakukan menyusul adanya laporan warga yang mulai merasakan dampak sebaran debu vulkanik setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Lola Julianti, salah seorang warga, mengatakan jumlah debu yang dirasakan di lingkungan tempat tinggalnya semakin banyak setelah erupsi. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga mengalami gangguan kesehatan.

“Yang dirasain debunya makin banyak pasca erupsi. Banyak warga ngeluh debu. Ke anak kecil jadi batuk pilek, pernapasannya sesak, pedih ke mata,” kata Lola.

Untuk mengurangi paparan debu, Lola memilih menggunakan masker dan kacamata ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Pemprov Banten mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan selama aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipantau. Warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara dipenuhi abu vulkanik.

Penggunaan masker saat berada di luar rumah juga dianjurkan sebagai langkah perlindungan untuk mengurangi paparan debu yang masuk melalui saluran pernapasan.

Masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik diimbau segera memanfaatkan layanan puskesmas terdekat.

“Jaga diri, jaga keluarga, dan saling mengingatkan,” demikian imbauan Pemprov Banten kepada masyarakat.

(wil/dam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *