Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Disclaimers
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Limitation on Liability
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Copyright Policy
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
General
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.
Keracunan makanan kerap kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa yang bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa makanan yang tidak aman dapat memicu lebih dari 200 jenis penyakit.
Menurut dr. Muhammad Fadil dari RS Sari Asih Bintaro, keracunan makanan harus segera dicurigai ketika keluhan saluran pencernaan muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman tertentu.
“Gejala yang paling sering muncul adalah mual, muntah, diare, kram atau nyeri perut, dan pada sebagian kasus dapat disertai demam. Tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang,” ujar dr. Muhammad Fadil.
Memahami Akar Masalah dan Gejala
WHO menjelaskan bahwa penyakit akibat makanan umumnya dipicu oleh mikroorganisme seperti bakteri (Salmonella, Campylobacter, hingga E. coli), virus, parasit, maupun kontaminasi zat kimia berbahaya.
Kontaminasi ini dapat terjadi di berbagai tahapan—mulai dari produksi, pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian—serta diperparah oleh kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan matang.
Peringatan Dehidrasi: Muntah dan diare berulang dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Kondisi ini memicu dehidrasi yang harus sangat diwaspadai, terutama pada anak-anak, lansia, serta pemilik kondisi kesehatan tertentu.
Langkah Tepat Mengatasi Keracunan Makanan
Pada kasus ringan, fokus penanganan utama adalah memastikan tubuh mendapatkan asupan cairan yang cukup secara bertahap. Larutan oralit sangat disarankan untuk mengganti elektrolit yang hilang akibat diare.
• Atur Asupan: dr. Muhammad Fadil mengingatkan agar pasien tidak memaksakan makan dalam jumlah banyak saat masih mual. “Yang lebih penting adalah menjaga asupan cairan. Setelah kondisi mulai membaik, makanan bisa diberikan kembali secara bertahap,” jelasnya. • Hindari Antibiotik Sembarangan: Masyarakat diimbau untuk tidak minum antibiotik tanpa resep dokter, sebab tidak semua penyakit makanan disebabkan oleh bakteri atau membutuhkan antibiotik. • Kapan Harus ke Dokter? Segera cari pertolongan medis jika muntah/diare terus-menerus, tubuh sangat lemas, sulit minum, mengalami nyeri perut hebat, BAB berdarah, atau demam tinggi.
“Jangan menunggu sampai semakin lemas. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegas dr. Muhammad Fadil.
5 Kunci Pencegahan Pangan ala WHO
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berdasarkan panduan Five Keys to Safer Food dari WHO, berikut langkah sederhana yang dapat diterapkan sehari-hari:
Menjaga Kebersihan: Biasakan mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, serta usai dari toilet.
Memisahkan Pangan Mentah dan Matang: Gunakan alat yang bersih untuk menghindari kontak langsung antara bahan mentah dan makanan siap saji.
Memasak hingga Matang Sempurna: Pastikan daging, unggas, telur, dan hidangan laut dimasak matang untuk mematikan mikroorganisme berbahaya.
Menyimpan di Suhu Aman: Jangan biarkan makanan matang terlalu lama di suhu ruang; segera simpan makanan yang mudah rusak pada suhu yang sesuai.
Memakai Air dan Bahan Aman: Pilih bahan pangan berkualitas, cek tanggal kedaluwarsa, dan pastikan air untuk minum serta memasak benar-benar aman.
Ditekankan dr. Muhammad Fadil, bahwa pencegahan berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil di dapur.
“Pencegahan sebenarnya dimulai dari hal sederhana, yaitu menjaga kebersihan, mengolah makanan dengan benar dan menyimpan makanan secara aman. Kalau sudah muncul gejala berat, segera cari pertolongan medis,” pungkasnya.(wil)