Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Banten Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Tak Hanya Anak Krakatau, Wilayah Banten Ini Dikepung 3 Sumber Bencana

Bagikan: Facebook X WhatsApp

PANDEGLANG | Bantenraya.co.id

Ancaman bencana di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, tidak hanya berasal dari Gunung Anak Krakatau. Wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda itu juga berada di dekat zona megathrust dan sejumlah sesar aktif.

Kondisi tersebut membuat Kecamatan Sumur menjadi salah satu wilayah yang memiliki risiko bencana cukup kompleks. Ancaman dapat berasal dari sumber tektonik maupun non-tektonik, mulai dari gempa bumi, tsunami hingga aktivitas gunung api.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun memperkuat upaya mitigasi bencana di wilayah tersebut, salah satunya melalui edukasi dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Setyoajie Prayoedhie mengatakan penguatan edukasi kebencanaan menjadi penting karena tren frekuensi gempa bumi terus meningkat, sementara mekanisme pembangkitan tsunami semakin kompleks.

Menurut dia, Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) menjadi salah satu bentuk kepedulian negara dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana.

“Risiko bencana sesungguhnya dapat kita kurangi apabila kita secara terencana dan terukur melakukan upaya mitigasi yang melibatkan semua pihak, termasuk masyarakat,” kata Setyoajie beberapa waktu lalu, dikutip Senin (7/9/2026).

Kewaspadaan tersebut tidak terlepas dari sejumlah peristiwa bencana yang pernah terjadi di kawasan Selat Sunda.

Pada 22 Desember 2018, tsunami yang dipicu longsoran material Gunung Anak Krakatau menerjang pesisir Kecamatan Sumur dan wilayah sekitarnya. Setahun kemudian, gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,9 pada 2019 kembali mengguncang kawasan tersebut dan menimbulkan kepanikan masyarakat.

Rangkaian peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ancaman bencana di Pandeglang bersifat kompleks. Selain gempa tektonik, wilayah tersebut juga menghadapi potensi tsunami dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pada tsunami 2018, Kabupaten Pandeglang menjadi daerah dengan jumlah korban terbanyak. Sedikitnya 292 orang meninggal dunia, 3.976 orang mengalami luka-luka, dan puluhan ribu warga harus mengungsi.

Melihat tingginya risiko tersebut, BMKG juga telah memberikan dukungan teknologi untuk memperkuat sistem peringatan dini di Pandeglang.

Sebanyak tiga unit Warning Receiver System New Generation (WRS-NG) telah dipasang di sejumlah lokasi strategis, yakni Kantor Setda Pandeglang, Kantor BPBD Kabupaten Pandeglang, dan KEK Tanjung Lesung.

Perangkat tersebut berfungsi menerima informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami secara real-time sehingga dapat membantu pemerintah daerah dalam merespons potensi bencana dengan lebih cepat.

Selain itu, sirine peringatan dini juga telah diaktifkan di Desa Teluk Labuan dan Desa Sidamukti. Keberadaan sistem tersebut diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi kepada masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir.

Penguatan teknologi peringatan dini, edukasi, serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana di Kecamatan Sumur dan wilayah pesisir Pandeglang lainnya.(Wil/dam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *