Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Banten Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Program TMS 2026 Dinsos Banten Dikritik, Tagana Lebak Angkat Suara

Bagikan: Facebook X WhatsApp

BANTEN | bantenrayaco.id

Pelaksanaan program Tagana Masuk Sekolah (TMS) tahun 2026 yang digelar Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Banten yang di kendalikan langsung oleh Kepala Bidang Perlindungan Sosial, Zainal Abidin menuai kritik dari Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lebak, Iwan Hermansyah.

Dalam wawancara melalui sambungan telpon, Rabu (28/10/2026) Iwan menyebut program tersebut dinilai terkesan dipaksakan dan lebih berorientasi pada penyerapan anggaran ketimbang perencanaan yang matang.

Menurutnya, program tersebut idealnya direncanakan dengan baik serta melibatkan sinergi dan koordinasi dengan organisasi Tagana yang berada di wilayah Kabupaten Lebak.

“Padahal, sudah cukup jelas nama programnya Tagana Masuk Sekolah. Artinya, organisasi Tagana semestinya berada di garda terdepan dalam pelaksanaannya, bukan justru lembaga dinas yang mengambil alih pelaksanaan,” ungkapnya.

Iwan mengatakan, Dinsos Banten seharusnya berkomunikasi jauh-jauh hari dengan organisasi relawan kebencanaan di Kabupaten Lebak untuk membahas sosialisasi peningkatan kapasitas kesiapsiagaan bencana berbasis sekolah. Koordinasi tersebut juga diperlukan dalam menentukan lokasi sekolah yang menjadi sasaran kegiatan.

“Saya menyayangkan kegiatan ini terkesan asal menentukan titik sekolah. Padahal, banyak sekolah yang berada di daerah rawan bencana dengan tingkat risiko jauh lebih tinggi dibandingkan sekolah-sekolah di wilayah perkotaan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Tagana Kabupaten Lebak memiliki banyak anggota yang berkompeten dalam pelaksanaan program TMS. Bahkan, sejumlah anggota telah mengikuti sertifikasi dari Kementerian Sosial (Kemensos).

Berdasarkan informasi yang diterimanya, kegiatan TMS telah dimulai pada Selasa (27/10/2026), dan dijadwalkan berakhir pada Rabu (28/10/2026). Adapun sekolah yang menjadi sasaran kegiatan tersebut adalah SMAN 1 Rangkasbitung, SMAN 2 Rangkasbitung, SMKN 1 Rangkasbitung dan SMAN 1 Cibadak.

Ia juga menyoroti keterlibatan anggota Tagana dari luar Kabupaten Lebak dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Padahal, menurutnya, Tagana Lebak memiliki organisasi dan anggota yang aktif serta siap berkontribusi.

“Kegiatan yang sudah berjalan ini juga melibatkan Tagana dari luar Lebak. Padahal, Tagana Lebak jelas ada dan eksis. Seandainya pihak dinas berkoordinasi dengan kami, mungkin lokasi kegiatannya tidak hanya diarahkan ke wilayah perkotaan, tetapi juga mencakup sebagian wilayah Lebak Selatan yang memiliki potensi ancaman gempa bumi dan tsunami,” pungkasnya.

Iwan berharap, ke depan, pelaksanaan program TMS dapat direncanakan secara lebih matang dengan melibatkan organisasi Tagana di daerah. Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya terlaksana secara administratif, tetapi juga tepat sasaran dan mampu meningkatkan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah, khususnya di wilayah yang memiliki risiko bencana tinggi. (Adit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *